PENDEKATAN IKLIM SOSIO – EMOSIONAL DALAM PENGELOLAAN KELAS

Pendekatan iklim sosio-emosional dalam pengelolaan kelas berakar pada psikologi penyuluhan (konseling) dan klinis sehingga menekankan pentingnya hubungan interpersonal. Guru adalah penentu utama dari hubungan interpersonal dan iklim (suasana) kelas. Dengan demikian, tugas yang amat pokok bagi guru ialah membangun hubungan interpersonal dan mengembangkan iklim sosio-emosional yang positif.

Pendekatan sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan murid serta hubungan antar murid. Didalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terrciptanya hubungan guru dengan murid yang positif, sikap mengerti dan sikap ngayomi atau sikap melindungi.

Dalam pendekatan iklim sosio-emosional dalam pengelolaan kelas terdapat beberapa pakar yang mengemukakan pendapatnya, yaitu :

  1. Carl A. Rogers
  2. Haim C. Ginnot
  3. William Glasser
  4. Rudolf Dreikurs

 

 

  1. Menurut Carl A. Rogers

Ide yang menyangkut ciri – ciri pendekatan iklim sosio – emosional  ini dapat dijumpai dalam tulisan – tulisan Cari Rogers. Pokok pikiran Rogers menyatakan bahwa faktor yang amat berpengaruh terhadap peristiwa belajar adalah mutu sikap yang ada dalam hubungan interpersonal antara guru (sebagai fasilitator) dan siswa (sebagai pelajar). Menurut Rogers, beberapa sikap yang perlu dimiliki guru untuk membantu siswa belajar adalah

  • Sikap kesadaran akan diri sendiri, keterbukaan dan tidak berpura – pura,
  • Sikap menerima, menghargai, mau membantu, dan percaya,
  • Sikap mau mengerti dengan penuh empati.

 

  • Sikap kesadaran akan diri sendiri, keterbukaan dan tidak berpura – pura

 

 

Guru perlu mengenal dirinya dengan baik dan menampilkan dirinya sendiri sebagai mana adanya. Guru hendaknya menyadari perasaan – perasaannya sendiri, menerima perasaan itu dan jika perlu mengkomunikasikan perasaan itu. Tindakan guru harus sesuai dengan perasaan itu dan tidak pernah berpura – pura. Pengembangan hubungan interpersonal dan iklim sosio – emosional yang positif amat dipengaruhi oleh kemamouan guru menampilkan dirinya sebagaimana adanya. Menurut Rogers, penampilan diri sebagaimana adanya merupakan sikap yang paling penting yang mempengaruhi proses belajar.

 

 

  • Sikap menerima, menghargai, mau membantu, dan percaya

 

Penerimaan guru merupakan sikap kedua yang juga amat penting dalam membantu siswa belajar. Penerimaan guru mengisyaratkan bahwa guru memandang siswa sebagai individu yang berharga. Hal ini juga menandakan adanya kepercayaan guru kepada siswa. Jika tingkah laku siswa diterima guru, maka siswa itu akan merasa bahwa ia dipercaya dan dihormati. Dengan demikian, guru yang menghormati dan mempercayai siswa akan mempunyai kesempatan yang besar untuk menciptakan iklim sosio emosional yang dapat membantu kesuksesan belajar siswa.

 

  • Sikap mau mengerti dengan penuh empati

 

Pengertian dengan penuh empati merupakan kemampuan guru untuk memahami keadaan siswa sesuai dengan pandangan siswa itu sendiri. Kemampuan ini menunjukkan kepakaan guru terhadap perasaan – perasaan sswa dan kepekaan guru untuk tidak memberikan penilaian terhadap keadaan siswa. Pengertian mendalam yang tanpa disertai penilaian ini perlu dilengkapi empati dari guru terhadap siswa. Jika hal ini terjadi, maka siswa akan merasa bahwa guru mengerti apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh siswa. Dengan demikian, hubungan interrpersonal dan iklim sosio – emosional yang positif akan berkembang, dan selanjutnya pengaruh besar terhadap kegitan belajar siswa.

 

  1. Menurut Haim C. Ginnot

 

Selanjutnya, dalam mengembangkan iklim sosio – emosional yang positif, Ginot menekankan pentingnya komunikasi yang dilakukan oleh guru. Berkaitan dengan itu, guru hendaknya berbicara keadaan yang dijumpai pada waktu itu dan tidak membicarakan pribadi atau sifat – sifat khusus siwa. Jika guru menghadapi tingkah laku siswa yang tidak menyenangkan, maka ia disarankan agar menjelaskan apa yang dilihatnya, apa yang dirasakannya, dan sebaiknya dilakukan. Berkenaan dengan hal ini, Ginot memberikan beberapa saran agar guru dapat berkomunikasi secara efektif

  • Janganlah menilai sifat atau pribadi siswa, sebab hal ini dapat merendahkan martabat siswa.
  • Jelaskanlah keadaan sebagaimana adanya, nyatakanlah persaan tentang keadaan itu, dan jelaskan harapan anda berkenaan dengan keadaan itu.
  • Kemukakanlah perasaan yang benar-benar keluar dari hati sanubari anda untuk membangkitkan pemahaman para siswa tentang keadaan yang mereka hadapi.
  • Hilangkanlah kekerasan dengan himbauan kerjasama dan penyajian kesempatan bagi para siswa untuk bertindak secara bebas.
  • Kurangilah keengganan/penolakan siswa dengan jalan tidak memerintah atau menuntut mereka melakukan sesuatu yang dapat membangkitkan sikap mempertahankan diri.
  • Kenalilah, terimalah dan hormatilah ide-ide serta perasaan-perasaan siswa yang dapat membangkitkan kesadaran akan harga diri mereka.
  • Hindarkanlah usaha diagnosis dan pragnosis yang menghasilkan pemberian ciri – ciri tertentu pada siswa yang seringkali tidak tepat .
  • Jelaskan prosesnya, bukan menilai hasil-hasilnya atau orangnya. Berikanlah bimbingan bukan kritik.
  • Hindarilah pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar yang dapat menimbulkan kemarahan atau sikap bertahan.
  • Hindarilah penggunaan kata-kata kasar, sebab hal itu dapat menghilangkan harga diri siswa.
  • Tahanlah keinginan untuk memberi pemecahan masalah yang segera terhadap masalah yang dihadapi siswa: pakailah waktu yang tersedia untuk membimbing siswa sehingga mereka mampu mengatasi sendiri masalah itu.
  • Berusahalah untuk berbicara singkat saja misalnya hindari pemberian ceramah yang panjang – lebar dan bertele – tele karena hal itu tidak akan memotivasi siwa.
  • Perhatikan dan amatilah pengaruh kata-kata tertentu terhadap siswa.
  • Pakailah pujian-pujian yang bersifat menghargai siswa, karena hal itu bersifat produktif misalnya hindarilah pemakaian pujian – pujian atas pertimbangan – pertimbangan yang tidak wajar, karena hal itu bersifat destruktif.
  • Dengarkanlah apa yanng dikatakan para siswa dan doronglah mereka untuk menyatakan ide – ide dan perasaan – perasaan  mereka.

 

  1. Menurut William Glasser

 

Menurut Glasser (1969), menekankan pentingnya keterlibatan guru dengan menggunakan strategi manajemen yang disebut terapi kenyataan. Menurut Glasser, satu – satunya kebutuhan dasar  yang dimiliki oleh manusia adalah kebutuhan akan identitas diri, yaitu perasaan bahwa diri sendiri memang dapat tegak berdiri dan penuh arti. Agar siswa dapat mencapai pengalaman sukses di sekolah, maka siswa harus mampu mengembangkan tanggung jawab sosial dan perasaan bahwadirinya berarti. Tanggung jawab sosial dan perasaan berarti ini merupakan hasil dari hubungan yang baik ntara siswa dengan orang lain. Dengan demikian, hal penting dalam pengembangan pengalaman sukses ini adalah keterlibatan siswa. Selanjutnya, Glasser mengemukakan prosesdan 8 langkah yang dapat dilkukan guru untuk membantu siswa mengubah tingkah lakunya. Untuk itu, guru hendaklah:

  1. Secara pribadi terlibat dalam kegiatan bersama siswa; menerima siswa yang bersangkutan, tetapi tidak menerima tingkh lakunya yng menyimpang itu; menyatakan kesediaan untuk membantu siswa dalam memecahkan kesulitan mereka.
  2. Menjelaskan tingkah laku siswa tanpa memberikan penilaian kepada siswa itu; yang dibicarakan adalah masalahnya, bukan orangnya.
  3. Membantu siswa melakukan penilaian terhadap tingkah lakunya yang menimbulkan masalah tersebut.; memusatkan perhatian pada hal – hal yang dilakukan siswa yang ikut membantu timbulnya masalah tersebut.
  4. Membantu siswa merencanakan tindakan yang lebih baik; jika diperlukan, mengajukan alternatif – alternatif; membantu siswa mencapai kesimpulan atau keputusan tentang apa yang hendaknya dilakukan berdasarkan hasil penilaian terhadap keadaan. Dengan demikian, guru mendorong timbulnya tanggung jawab pribadi.
  5. Membimbing siswa dalam melaksanakan tindakan yang dipilihnya.
  6. Memberikan penguatan apabila siswa melaksanakan rencana yang dibuatnya; mengusahakan agar siswa tahu bahwa guru mengetahui kemajuan yang dicapai siswa.
  7. Tidak mempersoalkan alasan mengapa siswa gagal melaksanakan tindakan yang telah direncanakannya—apabila siswa memang gagal, membantu siswa memahami bahwa siswa itu bertanggung jawab atas tingkah lakunya sendiri; menunjukkan bahwa siswa memerlukan rencana yang lebih baik. Menerima alasan – alasan kegagalan, berarti mengkomunikasikan sikap bahwa guru sebenarnya kurang mau membantu.
  8. Memberi kesempatan siswa mengalami akibat-akibat dari perbuatannya yang menyimpang itu, tetapi tidak menghukumnya; membantu siswa mencoba lagi membuat rencana yang lebih baik dan mengharapkan tekadnya yang penuh untuk melaksanakan rencana tersebut.

 

Glasser memandang bahwa proses di atas adalah efektif bagi guru untuk membantu siswa yang bertingkah laku menyimpang untuk memperbaiki tingkah lakunya, sehingga menjadi positif. Sebagai tambahan, Glasser mengajukan suatu proses untuk membantu seluruh kelas menangani masalah tingkah laku individual dan kelompok, yaitu pertemuan kelas.untuk memecahkan masalah sosial.

Berbagai masalah tingkah laku dapat diatasi melalui penggunaan seluruh kelas sebagai kelompok yang bersama –sama memecahkan masalah dibawah bimbingan guru. Tanpa bimbingan guru, siswa akan cenderung menghindari masalah – masalah itu. Glasser mengemukakan tiga pedoman untuk mengembangkan pertemuan kelas guna memecahkan masalah soosial, yakni:

¡   Masalah apapun yang menyangkut individu atau kelompokdapat didiskusikan; masalah yang prlu dibahas itu dapat dikemukakan baik oleh guru maupun siswa.

¡   Diskusi hendaklah diarahkan pada pemecahan masalah itu; suasana diskusi hendaknya bebas dari saling menuduh dan saling menghukum; pemecahan yang dicapai hendaknya tidak mencakup penerapan hukuman atau pencarian siapa bersalah.

¡   Pertemuan diselenggarakan dalam suasana guru dan siswa duduk dalam satu lingkaran, pertemuan tidak hanya dilakukan sekali, tetapi sering; waktu setiap pertemuan antara 30 – 40 menit, tergantung pada umur siswa.

 

  1. Menurut Rudolf Dreikurs

 

Ada dua hal yang amat penting yang dikemukakan oleh Rudolf Dreikurs, yaitu

  1. penekanan akan pentingnya suasana kelas yang demokratis, dimana guru dan siswa bersama – sama mewujudkan rasa tanggung jawab demi kelancaran dan keberhasilan kegiatan kelas, dan
  2. perlunya diperlihatkan pengaruh akibat – akibat tertentu (dari suatu tindakan atau kejadian) atas tingkah laku siswa.

 

Anggapan dasar yang dominan berkenaan dengan pendapat Dreikurs ini adalah bahwa tingkah laku dan keberhasilan siswa tergantung pada suasana demokratis yang ada di dalam kelas. Kelas yang otokratis adalah kelas dimana guru mempergunakan kekerasan, penekanan, persaingan, hukuman dan ancaman untuk mengontrol tingkah laku siswa. Sedangkan kelas yang bersuasana masa bodoh (laissez-faire) adalah kelas dimana guru terlalu sedikit atau sama sekali tidak memperhatikan kepemimpinan di kelas itu dan terlalu banyak memberikan kebebasan kepada siswa. Baik kelas yang otokratis maupun masa bodoh mengarahkan siswa terjerumus kedalam frustasi, kekerasan dan /atau suasana menarik diri. Kedua suasana kelas ini sama sekali tidak produktif. Sebaliknya kelas yang benar – benar produktif hanya kelas yang bersuasana demokratis. Dalam suasana kelas yang demokratis  siswa diperlakukan sebagai individu yang bertanggung jawab, berharga, dan mampu mengambil keputusan dan memecahkan masalah. Dalam suasana demokratis ini dikembangkan rasa saling percaya mempercayai antara guru dan siswa, dan antara siswa dengan siswa lainnya.

Guru menciptakan suasana kelas yang demokratis tidak boleh menjadi penguasa atau melepaskan tanggung jawab di kelasnya. Guru yang demokratis bersifat membimbing, sedangkan guru yang otokratis bersifat mendominasi dan guru yang masa bodoh bersifat melepaskan tanggung jawab atas pembinaan dan keberhasilan kelasnya. Guru yang demokratis mengajarkan tanggung jawab kepada para siswanya dan membagi tanggung jawab itu untuk semua siswa dan guru.

Kunci keberhasilan dari organisasi kelas yang demokratis ini adalah adanya diskusi – diskusi yang mantap dan terbuka. Dalam kegiatan ini guru bertindak sebagai pemimpin, membimbing kelompok siswa yang mendiskusikan masalah – masalah dan kepentingan mereka. Hasil dari kegiatn ini ada 3, yaitu guru dan siswa mempunyai kesempatan untuk :

  1. mengemukakan segala sesuatu yang dirasakan secara terbuka,
  2. saling memahami,
  3. saling bantu membantu.

 

Pemikiran Drekurs kedua yang amat penting adalah pengaruha kibat – akibat tertentu terhadap tingkah laku siswa. Ada 2 akaibat yang diperhatikannya, yaitu akibat alamiah dan akibat logis. Akibat alamiah adalah hal- hal yang ditimbulkan oleh tingkah laku siswa tersebut, sedangkan akibat logis adalah hal – hal yang diharapkan timbul berkat pengaturan atau rencana dari pihak guru. Akibat alamiah dari kekurang hati – hatian siswa bekerja di laboratorium, misalnya adalah tangan terbakar atau terluka oleh pecahan gelas atau alat pratikum, sedangkan akibat logisnya adalah siswa harus mengganti alat pratikum yang pecah itu.agar suatu akibat dapat merupakan akibat logis, maka terlebih dahulu siswa harus menganggapnya demikian. ”Jika untuk akibat yang dimaksud logis itu siswa memandangnya sebagai hukuman, maka efek positifnya akan hilang.” Selanjutnya, Drekurs dan kawan – kawannya mengemukakan 5 kriteria untuk membedakan akibat logis dari hukuman.

  1. Akibat logis berkaitan dengan kenyataan yang menyangkut aturan sosial, tidak menyangkut orang – orang tertentu saja; hukuman merupakan perwujudan dari kekuasaan (otoritas) seseorang; akibat logis merupakan akibt dari dilanggarnya aturan sosial yang telah diterima bersama.
  2. Akibat logis berkaitan secara logis dengan tingkah laku  yang menyimpang; hukuman jarang dihubungkan secara logis seperti itu: siswa dengan jelas dapat melihat hubungan antara tingkah laku yang menyimpang dengan akibat logisnya.
  3. Akibat logis tidak menyangkut pautkan dengan penilaian moral; hukuman mau tidak mau berkaitan dengan penilaian moral: tingkah laku siswa yng menyimpang tidak dipandang sebagai dosa, melainkan sebagai kesalahan semata – mata.
  4. Akibat logis hanya berkaitan dengan hal – hal yang terjadi; hukuman berkaitan apa yang sudah terjadi: titik pusat perhatian adalah masa depan.
  5. Akibat logis dikenakan kepada siswa dalam suasana keakraban; hukuman dikenakan dalam suasana marah (secara terbuka atau terselubung).

 

RANGKUMAN :

 

Akibat logis berkaitan dengan kenyataan yang menyangkut aturan sosial; secara intrinsik dikaitkan dengan tingkah laku yang menyimpang: tidak dikaitkan dengan penilaian moral; dan menyangkut hal – hal yang terjadi. Sebaliknya hukuman  berkaitan dengan kekuasaan seseorang; tidak secara logis dihubungkan dengan tingkah laku yang menyimpang:  dikaitkan dengan penilaian moral; dan menyangkut hal – hal yang sudah terjadi. Baik Glesser maupun Drekurs menekankan pentingnya pengaruh positif dari penerapan akibat logis untuk menanggulangi tingkah laku siswa. Karena itu, guru hendaknya membantu siswa untuk memahami hubungan antara akibat logis dan tingkah lakunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s